Sabtu, 29 September 2018

KISAH SIPUT & KATAK

Ada seekor siput selalu iri dan memandang sinis terhadap katak. Suatu hari, katak yg kehilangan kesabaran akhirnya berkata kepada siput:

"Tuan siput, apakah saya telah melakukan kesalahan, sehingga Anda begitu membenci saya?"

Siput menjawab: "Kalian kaum katak mempunyai empat kaki dan bisa melompat ke sana ke mari, tapi saya mesti membawa cangkang yang berat ini, merangkak di tanah, jadi saya merasa sangat sedih"

Katak menjawab: "Setiap kehidupan memiliki penderitaannya masing-masing, hanya saja kamu cuma melihat kegembiraan saya, tetapi kamu tidak melihat penderitaan kami (katak)"

Dan seketika, ada seekor elang besar yang terbang ke arah mereka, siput dengan cepat memasukan badannya ke dalam cangkang, sedang­kan katak dimangsa oleh elang. Akhirny­a siput baru sadar, ternyat­a cangkang yang dimilikinya bukan merupakan suatu beban tetapi adalah kelebihannya.

Nikmatilah kehidupanmu, tidak perlu dibandingkan dengan orang lain. Keirian hati kita terhadap orang lain akan membawa lebih banyak penderitaan.

Rejeki tidak selalu berupa emas, permata atau uang yang banyak bukan pula saat kita di rumah mewah dan pergi bermobil. Karena bukan kebahagiaan yang menjadikan kita berSYUKUR tetapi berSYUKURlah yang menjadikan kita bahagia.

Itulah Hakikat dari Bersyukur.

Kamis, 21 Desember 2017

*■ MANUSIA MANUSIA yang sudah _"Selesai dengan dirinya sendiri"_ ■*


Pernahkah anda melihat atau mengenal seseorang yang tetap sabar dan tenang saat mendapat musibah dan sama tenangnya saat mendapat keberuntungan, tetap terkendali dan sabar saat diejek dan dicaci dan juga bersikap kalem saat disanjung.
Tetap santun dan rendah hati saat mendapat kekuasaan/menjadi Boss dan juga menjadi bawahan, bersedia makan di restoran mewah dan tidak menolak makan di tenda pinggir jalan, tidak jumawa saat naik mobil mewah dan tidak minder saat naik bajaj atau bus umum.
Tidak rakus dan tidak menimbun saat diberi kesempatan kaya dan tidak mengeluh saat jatuh miskin.
Menggunakan sandang-pangan dan peralatan untuk dimanfaatkan fungsinya, bukan untuk dipamerkan mereknya,
Mata mereka sudah tidak silau dan tidak tergoda dengan indahnya bungkus atau pernak pernik asesoris.
```MEREKA SUDAH LEBIH MEMILIH ESENSI```.
Memilih teman tanpa membedakan status sosial, gelar atau posisi.
Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang sudah *_"SELESAI DENGAN DIRINYA SENDIRI"_*.
Kakinya menapak bumi dan menjalani realitas, tetapi JIWANYA sudah berada di 'ATAS KITA'.
Ego atau ke 'aku' annya sudah ditaklukan.
*```*Buat mereka kehidupan di atas bumi sekedar peran-peran fana dari Sang Sutradara Agung yang mereka jalani```.*
Tampilan orang-orang seperti ini mungkin kurang seru atau kurang asik dalam pergaulan, dan tidak banyak orang-orang seperti ini.
😍 * Tapi carilah...JADIKAN MEREKA SAUDARA ATAU SAHABAT !* 😍

Rabu, 30 Agustus 2017

Memaafkan itu menyehatkan dan Membahagiakan

Orang tak bisa hidup bahagia dengan rasa sakit hati dan kemarahan terhadap orang lain, apalagi ditambah dengan keinginan balas dendam. Beban berat seperti ini harusnya dihilangkan agar hati terhindar dari penyakit, dan hidup lebih sehat dan bahagia.
Rasa sakit hati dan kemarahan karena disakiti atau dianiaya orang lain, selain mempengaruhi kesehatan batin juga mempengaruhi kesehatan jasmani. 

Disadari atau tidak rasa sakit hati yang mendalam dapat merusak jiwa dan kesehatan. Maka memaafkan adalah obatnya. Dengannya tubuh menjadi lebih rileks, aliran darah lebih lancar karena jantung bekerja normal tanpa ganguan. Ketimbang untuk orang lain, memaafkan sebenarnya amat baik manfaatnya buat diri kita sendiri. Lalu bagaimana caranya?

Memang tak selalu mudah memaafkan kesalahaan orang lain. Faktor psikologis seperti pembiasaan dari orang tua (yang tentu ditiru anak-anaknya) atau kurang matangnya kepribadian seseorang, adalah sedikit dari sebab kenapa orang sulit memberi maaf. Akan tetapi tak lantas membuat kita menjadi orang yang sukar memafkan bukan? Apalagi sebagai makhluk paling sempurna yang diberi pilihan, mau memaafkan atau tidak, mau terus menderita atau tidak.

Cara yang cukup sederhana untuk adalah dengan tahap-tahap sebagai berikut:
  • Hadapilah kemarahan, sakit hati dan rasa malu Anda.
  • Jalankan proses memaafkan, lakukan itu dan buang jauh-jauh keinginan balas dendam.
  • Maafkanlah. Pahamilah mereka yang bersalah pada anda, kita tidak sedang menghakimi seseorang, berusahalah empati terhadapnya.
  • Sembuhkanlah diri anda.


Langkah-langkah praktis ini dapat kita praktekkan untuk sakit hati, kekecewaan, kemarahan dalam skala kecil atau besar. Motivasi memaafkan harusnya lebih kuat, karena Allah menyatakan dalam berbagai ayat di al-Qur’an Allah memberi keutamaan orang yang pemaaf. Juga contoh Rasulullah adalah orang yang mampu memaafkan walau sekeji apapun perlakuan yang diterimanya. 
Wallahu’alam… 

Senin, 24 Juni 2013

kesadaran berdakwah



Melemahnya kesadaran manusia untuk beragama atau kekurangpekaan mereka terhadap panggilan Ilahiah menurut Abul Hasan An-Nadwy disbabkan hilangnya indra keenam, yaitu indra agama.

Apabila seseorang kehilangan indra agamanya, karena suatu sebab atau cacat fitrahnya, niscaya hilang pulalah fungsi dan pengaruhnya sehingga ia tidak dapat percaya dan menanggapi apa yang dihasilkan oleh indra itu.bagai orang buta, seperti orang tuli, dan bahkan hatinya akan keras dan tertutup mendengar peringatan-peringatan dan ancaman yang menggugah hatinya.

dakwah Islam bertugas mengfungsikan kembali indra keagamaan manusia yang telah menjadi fikri asalnya, agar mereka dapat menghayati tujuan hidup sebenarnya untuk berbakti kepada Allah. 

dakwah adalah kewajiban setiap muslim. seperti disabdakan Rasullullah, "Dari Khudzaifah ra. dari Nabi bersabda; "Demi Dzat yang menguasai diriku, haruslah kamu mengajak kepada kebaikan dan haruslah kamu mencegah perbuatan yang munkar, atau Allah akan menurunkan siksa-Nya kepadamu kemudian kamu berdoa kepada-Nya di mana Allah tidak akan mengabulkan permohonanmu" (HR.Imam Tirmidzi).

banyak ayat-ayat Allah yang menyebutkan dasar hukum dakwah dan kewajiban dakwah bagi kita. QS. Ali Imron: 104, QS. Al-Baqarah: 257, dan masih banyak lagi. 

marilah hai semua kita melaksanakan tugas dakwah ini, mulailah dari diri sendiri dengan selalu jujur dan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran walaupun itu sangat sulit dan penuh tantangan. jadilah teladan. setelah dari diri sendiri, marilah ajak orang terdekat kita untuk selalu amr ma'ruf nahy munkar. barulah kita dapat menjadi tauladan sehingga usaha dakwah bisa kita jalankan agar nilai-nilai Islam selalu menjadi bagian dari setiap muslim. 

wallahu'alam...

Memaafkan itu menyehatkan dan Membahagiakan



Orang tak bisa hidup bahagia dengan rasa sakit hati dan kemarahan terhadap orang lain, apalagi ditambah dengan keinginan balas dendam. Beban berat seperti ini harusnya dihilangkan agar hati terhindar dari penyakit, dan hidup lebih sehat dan bahagia.
Rasa sakit hati dan kemarahan karena disakiti atau dianiaya orang lain, selain mempengaruhi kesehatan batin juga mempengaruhi kesehatan jasmani. Disadari atau tidak rasa sakit hati yang mendalam dapat merusak jiwa dan kesehatan. Maka memaafkan adalah obatnya. Dengannya tubuh menjadi lebih rileks, aliran darah lebih lancar karena jantung bekerja normal tanpa ganguan. Ketimbang untuk orang lain, memaafkan sebenarnya amat baik manfaatnya buat diri kita sendiri. Lalu bagaimana caranya?
Memang tak selalu mudah memaafkan kesalahaan orang lain. Faktor psikologis seperti pembiasaan dari orang tua (yang tentu ditiru anak-anaknya) atau kurang matangnya kepribadian seseorang, adalah sedikit dari sebab kenapa orang sulit memberi maaf. Akan tetapi tak lantas membuat kita menjadi orang yang sukar memafkan bukan? Apalagi sebagai makhluk paling sempurna yang diberi pilihan, mau memaafkan atau tidak, mau terus menderita atau tidak.
Cara yang cukup sederhana untuk adalah dengan tahap-tahap sbb:
1.   Hadapilah kemarahan, sakit hati dan rasa malu Anda.
2.   Jalankan proses memaafkan, lakukan itu dan buang jauh-jauh keinginan balas dendam.
3. Maafkanlah. Pahamilah mereka yang bersalah pada anda, kita tidak sedang menghakimi seseorang, berusahalah empati terhadapnya.
4.   Sembuhkanlah diri anda.

Langkah-langkah praktis ini dapat kita praktekkan untuk sakit hati, kekecewaan, kemarahan dalam skala kecil atau besar. Motivasi memaafkan harusnya lebih kuat, karena Allah menyatakan dalam berbagai ayat di al-Qur’an Allah memberi keutamaan orang yang pemaaf. Juga contoh Rasulullah adalah orang yang mampu memaafkan walau sekeji apapun perlakuan yang diterimanya. Wallahu’alam…

Senin, 26 Maret 2012

Takut Mati


Ada seorang laki-laki yang disebut-sebut selalu berada di sisi Nabi Muhammad saw. Orang itu sering dipuji dengan baik. Lalu Rasulullah bertanya, ''Bagaimana teman kalian itu menyebut mati?''
''Kami hampir tidak pernah mendengar ia mengingat mati,'' jawab mereka.
 ''(Jika begitu), maka sesungguhnya teman kalian itu bukanlah di situ (di sisi Nabi),'' jawab Rasulullah.
Seorang sahabat dari kaum Anshar bertanya. ''Wahai Nabi, siapakah manusia yang paling cerdas dan mulia?''
''Mereka yang sering mengingat mati dan (tekun) mempersiapkan diri menghadapi kematian. Mereka pergi dengan kelegaan dunia dan kemuliaan akhirat,'' sabda Nabi.
Memasuki Tahun Baru ini, kiranya kita perlu mengingat hadis di atas, yang dikutip Imam Ghazali dalam Teosofia Al-Qur'an. Dalam setiap pergantian tahun, sebenarnya umur kita semakin mengurang. Hari-hari kehidupan kita semakin dekat kepada liang kubur alias kita akan mati.

Menurut Ghazali, dalam syariat Islam, kita akan mendapatkan pahala besar kalau sering mengingat kematian. Sabda Nabi, ''Aku tinggalkan dua pemberi peringatan di tengah-tengah kalian, yang diam dan dapat berbicara. Yang diam adalah maut (mati), sedangkan yang berbicara adalah Alquran.''
Dalam Alquran, Allah tegas mengatakan, ''Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (QS 62:8).

Namun demikian, tak jarang sebagian kita merasa takut menghadapi kematian. Takut mati, kata Murtadha Muthahhari dalam Jejak-jejak Ruhani, merupakan insting dan alami pada setiap makhluk hidup. Bayangan kematian adalah bayangan yang sangat menakutkan. Jika kita takut terhadap sesuatu, karena sesuatu itu akan membawa kematiannya. ''Sekiranya kematian itu tidak ada di tengah manusia, niscaya tidak ada sesuatu pun yang ditakutinya,'' tulis Muthahhari.

Menurut Ibn Miskawaih dalam Menuju Kesempurnaan Akhlak ada beberapa kemungkinan kenapa takut mati sering menghantui kita. Di antaranya, mungkin kita tidak tahu apa mati itu; tidak tahu di mana sebetulnya jiwa akan pergi nanti; salah menduga bahwa tubuh dan jiwa akan hancur tanpa bekas dan ada penderitaan yang sangat menyakitkan; takut siksa dan bingung apa yang akan kita hadapi setelah mati; atau kita terlalu sayang harta sehingga sedih meninggalkannya. ''Seluruh prasangka ini adalah salah, dan tak terbukti sama sekali,'' tulisnya.

Kalau kita takut mati, berarti kita takut terhadap apa yang mestinya didambakan. Kematian, kata Ibn Miskawaih, sebenarnya merupakan perwujudan dari apa yang tersirat dalam definisi tentang manusia sebagai makhluk hidup, berpikir, dan akan mati. Artinya, kematian justru menyempurnakan manusia. Lewat kematian, manusia mencapai bidang kehidupannya yang paling tinggi.

Ujian


Allah menguji hamba-Nya dengan musibah, sebagaimana seseorang menguji kemurnian emas dengan api. Jika yang terlihat emas murni, itulah orang yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Jika mutunya kurang dari itu, pertanda ia orang yang bimbang dan ragu. Dan jika yang terlihat seperti emas hitam, itulah orang yang benar- benar ditimpa fitnah dan musibah.

Tidak dengan sendirinya jika seorang hamba menyatakan dirinya beriman, ia bebas dari pengujian. Tidak dengan sendirinya jika seorang hamba menyatakan dirinya siap diuji, lalu ia bebas dari rasa takut dari pengujian itu. Memahami pengujian iman adalah memahami kekuasaan Allah. Kesadaran yang paling puncak ketika kita memahami Alquran adalah kepasrahan kepada Tuhan.
Iman dan rasa takut itu bersanding sehingga keduanya saling memandang. Barangkali ada tenggang rasa. Memang, rasa takut yang dikaruniakan kepada setiap makhluk itu merupakan kendala terbesar dalam menempuh lautan iman. Bagaimana iman yang besar yang didampingi keberanian yang besar pula, dapat kita miliki dalam beribadah, itulah soalnya.

Sebenarnya, apa pun nasib kita, kita layak bersyukur karena nasib itu Allah sendiri yang memberikannya. Tidak hanya berwujud musibah, pengujian itu juga berwajah keuntungan. Alhamdulillah.
Hadis riwayat At-Thabrani yang dikutip di atas selalu mengingatkan kita bahwa Allah Maha Mengetahui atas seluruh aktivitas makhluknya. Bahkan ketika kita dikaruniai kekuasaan -- sebagai presdir maupun ketua RT -- kita justru sedang masuk ke laboratorium pengujian Allah itu. Kita menjadi pemimpin yang baik atau sebaliknya. Iman dan ketakutan, pengujian dan keputusasaan, seperti jalin-menjalin.

Begitu besar sesungguhnya tanggung jawab dan pengujian yang dibebankan seorang pemimpin, sampai-sampai kita ingat Abu Bakar Al-Shiddiq yang pernah berpidato: ''Mereka yang paling sengsara di dunia dan di akhirat adalah para raja! Apabila seorang raja memiliki sesuatu, maka Allah akan menjadikannya selalu tak puas. Muak akan apa yang dimilikinya, tapi rakus terhadap apa yang digenggam orang lain.''
''Ia memperpendek masa hidupnya dan mengisi hatinya dengan kecemasan. Karena raja tidak puas bila mendapat sedikit, namun sakit hati kalau mendapat banyak. Ia bosan akan hidup enak dan keindahan tak lagi menarik baginya. Tak ubahnya seperti uang palsu atau fatamorgana, ia tampak ceria tapi gundah-gulana batinnya. Dan bila ia meninggal dunia, akan ditimpa hisab yang keras, dengan sedikit pengampunan. Sesungguhnya raja adalah orang yang patut dikasihani!'' 

jadi saudaraku.. ujian adalah bentuk kasih sayang Allah... bentuk perhatian-Nya terhadap kita semua... wallhu'alam...(RDE)

KETIKA ALLAH BERKATA "TIDAK"


Ya Allah ambillah kesombonganku dariku, Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya."
Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat, Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."
Ya Allah beri aku kesabaran, Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri."
Ya Allah beri aku kebahagiaan, Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu."
Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan, Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada Ku."
Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat, Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."
Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku, Allah berkata... "Akhirnya kau mengerti !"

Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya. Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirim kan tak ada jawaban sama sekali -- orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya-tanpa susah payah. Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan. Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat.
Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu. Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "pilek" dan "demam".... dan terus berdoa.

Minggu, 25 Maret 2012

Rencana Allah itu Indah

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet. Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut :"Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil :
"Anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. "
Waktu aku sudah duduk di pangkuan, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet. Kemudian ibu berkata :"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan".

Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah ; "Allah, apa yang Engkau lakukan ?". Ia menjawab :" Aku sedang menyulam kehidupanmu." Dan aku membantah, " Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah ?". Kemudian Allah menjawab, "Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di sisiKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu."  Subhanallah, Maha Suci Allah SWT.

"Ightanim Khomsan Qobla Khomsin"

Bismillahirrahmanirrahim

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh
dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati
supaya menetapi kesabaran."
(QS. 103 [Al'Ashr]:1- 3)

Rasulullah SAW pernah bersabda: "Rebutlah lima perkara sebelum datangnya
lima perkara. Pertama : masa sehat sebelum sakit. Kedua : masa kaya
sebelum datangnya masa sempit (miskin). Ketiga : masa lapang sebelum
tiba masa sibuk. Keempat masa muda sebelum datang masa tua dan kelima
masa hidup sebelum tiba masa mati."
(HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

Lima perkara sebelum datang lima
perkara (Ightanim Khomsan Qobla Khomsin), yaitu:

Pertama, Hayataka qobla mautika; mumpung masih hidup sebelum mati,
pergunakanlah umur itu seproduktif mungkin, karena hanya ketika hidup
orang bisa berinvestasi untuk kebahagiaan akhirat nanti. Jika orang
sudah mati maka produktifitasnya h
abis, selain tiga perkara; amal jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak saleh.
Mumpung masih hidup, perbanyak amal jariah, yakni amal yang
kemanfaatannya berumur panjang dan dimanfaatkan oleh orang banyak,
misalnya membuat jembatan, jalan, gedung sekolah, masjid, rumah sakit
dsb. Mengajarkan ilmu pengetahuan yang kita miliki kepada orang lain,
selagi ilmu itu diamalkan, maka kita akan meraih ganjarannya. Serta
didiklah anak kita hingga menjadi anak saleh, karena hanya doa anak
saleh yang dijamin diterima Tuhan.

Kedua, Syababaka qobla haramika. Mumpung masih muda, sebelum pikun,
gunakan masa muda untuk belajar dan bekerja keras, karena belajar di
waktu muda seperti orang melukis diatas batu, tidak mudah hilang,
sedangkan belajar di waktu tua apalagi setelah pikun, seperti melukis di
atas air. Juga bekerja keraslah di usia muda untuk menabung, agar di
usia tua nanti tinggal menikmati buah dari tanaman ketika masih muda.
Orang, ketika sudah pikun, ia kembali lemah seperti anak-anak, kembali
tidak mengerti apa-apa seperti ketika belum sekolah.

Ketiga, Shihhataka qobla saqamika. Mumpung masih sehat, sebelum sakit.
Sehat bukan saja kenikmatan, tetapi juga peluang. Dalam kondisi sehat
orang bisa mengerjakan banyak hal, dan bisa mengatasi banyak hambatan.
Sehat itu satu kenikmatan yang jarang disadari, baru setelah sakit orang
menyadari betapa bermaknanya sehat.

Keempat, Ghinaka qobla faqrika. Mumpung masih punya, masih kaya, belum
bangkrut, gunakan kekayaan kita untuk hal-hal yang positif bagi
keluarga, karib kerabat, tetangga atau masyarakat luas, karena jika
keburu bangkrut kita tidak lagi mampu memberi, dan baru menyadari betapa
bermaknanya kontribusi orang kaya. Ciri orang kaya adalah laksana air
yang mengalir ke bawah, lebih banyak memberi daripada menerima. Jika
orang sudah berharta banyak tetapi kebutuhannya malah lebih banyak
sehingga ia tidak mampu memberi malah mengambil jatah orang miskin, maka
orang seperti itu bukanlah orang kaya. Oleh karena itu ada orang kaya
harta tapi miskin hati, dan ada orang yang miskin harta tapi kaya hati.
Orang yang kaya hati, punya lima ribu rupiah masih bisa memberi empat
ribu rupiah. Mari berbuat mumpung masih kaya, sebelum bangkrut.

Serta kelima, Sa`atika qobla dloiqika. Mumpung masih punya kelapangan,
belum terhimpit kesempitan, mumpung sempat belum sempit, gunakan
kesempatan itu untuk melakukan hal-hal yang terbaik. Kesempatan sering
tidak datang dua kali, maka jangan sia-siakan. Jangan salah pilih dan
salah mengambil keputusan ketika kesempatan terbuka. Banyak orang
menggunakan "kesempatan" dalam "kesempitan" yang berujung pada
penyesalan yang panjang, hanya nikmat sesaat berujung pada derita
selamanya.

Lima hal itu merupakan inti visi dan misi hidup manusia, kunci
kesuksesan itu terletak pada bagaimana kita mempergunakan kesempatan
dengan sebaik-baiknya. Mempergunakan kesempatan merupakan wujud pasrah
pada upaya dan usaha, bukan pada hasil. Prinsip pasrah pada upaya dan
usaha akan membentuk jiwa yang teguh, tegar, kuat, dan tidak mudah putus
asa. Bila suatu saat upaya kita belum menghasilkan sesuatu yang kita
harapkan, maka kita tidak lantas putus asa, karena kewajiban kita adalah
berupaya.

Karena, Inna sa'yakum lasyattaa, sesungguhnya usaha kamu memang
berbeda-beda (QS. 92 [Al Lail]
:4). Wallahu'alam bishshawab (RDE)

Minggu, 23 Oktober 2011

JENIS-JENIS PERILAKU YANG MENUNJUKKAN GAIRAH ORANG-ORANG BERIMAN-2

JENIS-JENIS PERILAKU YANG MENUNJUKKAN GAIRAH ORANG-ORANG BERIMAN-2 

3.     Mengutamakan Kepentingan Agama daripada Kepentingan Mereka Sendiri
Seperti disebutkan sebelumnya, sebagian besar orang dalam masyarakat jahiliah berusaha untuk memperoleh keuntungan dari masyarakat tempat mereka tinggal melalui hubungan personal, dan bahkan dari teman-teman karibnya. Jika terjadi konflik kepentingan, mereka tidak pernah ragu untuk mendahulukan kepentingan mereka sendiri dan, dalam sekejap mata, dapat dengan mudah mengorbankan orang lain bahkan kawannya sendiri. Itu karena mereka mengutamakan diri mereka ketimbang apa pun dan siapa pun.
Namun, situasinya berbeda bagi orang-orang beriman. Mereka tidak menetapkan tujuan-tujuan individual dan dengan demikian tidak berkonsentrasi hanya pada kepentingan pribadi tetapi mempertimbangkan kepentingan orang beriman lain dan Islam. Memang, ketika kepentingan orang beriman dan Islam dipenuhi, kepentingan mereka sendiri akan terpenuhi. Mereka tidak dikuasai oleh kepentingan duniawi, tetapi yang terpenting bagi mereka dalam hidup ini ialah untuk memperoleh perilaku yang paling menyenangkan Allah, karena itulah yang akan berguna bagi mereka baik di dunia maupun di akhirat. Mereka yang memiliki jenis mentalitas ini selalu bekerja untuk kepentingan Islam dengan penuh gairah.
Pada titik ini perlu dijelaskan apa itu "kepentingan" Islam. Allah mewahyukan agama-Nya kepada semua orang sebagai petunjuk di atas jalan lurus. Menyampaikan kepada orang keyakinan dan amal agama dan kebahagiaan yang muncul dari moralitasnya ditambah dengan semua keuntungan spiritual dan materialnya merupakan kewajiban semua orang beriman. Mereka memenuhi kewajiban ini dengan memberi contoh bagaimana hidup dengan prinsip-prinsip al-Qur'an dan dengan menyampaikan kepada manusia melalui kata atau menyebarkan publikasi yang relevan. Orang beriman menganggap mengajak satu orang kepada keselamatan abadi merupakan bentuk ibadah yang penting. Ini merupakan aspek utama dari "kepentingan" Islam. Dalam bidang-bidang yang berkaitan dengan pencapaian perdamaian sosial dan individual dan pencegahan imoralitas, kesengsaraan dan ketidakadilan, orang-orang beriman mengesampingkan kepentingan mereka sendiri. Pendekatan ini diambil dari sabda Nabi Muhammad saw: "Engkau tidak akan benar-benar beriman sampai hawa nafsunya disandarkan kepada agama yang aku bawa." (An-Nawawi, Hadis No. 41).
Dalam situasi-situasi seperti itu orang beriman mungkin mencela hak mereka sendiri. Ketika mereka harus mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri, sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai kesalahan konsepsi; mereka mungkin mendefinisikan sikap orang beriman ini sebagai "ketololan".
Ada sebagian orang yang berpikir sesuai dengan kondisi masyarakat dan akan berkata, "Apakah anda orang yang akan menyelamatkan dunia?" Namun, berbeda dari yang mereka bayangkan, orang beriman tidak mengabaikan kepentingan pribadi demi kepentingan akhirat; mereka mengharapkan balasan pengorbanannya dari Tuhan. Karena alasan ini mereka rela berkorban untuk Islam, menyampaikan pesan moral yang baik dan mengajak orang kepada keselamatan abadi. Allah memberikan kabar baik bahwa sebagai balasan bagi tekad kuat mereka Dia akan memberi mereka balasan yang lebih baik dan lebih tinggi. Akibatnya, seseorang yang mengesampingkan kepentingan pribadi dan memenuhi kepentingan agama sebenarnya memperoleh manfaat yang paling baik, baik di dunia maupun di akhirat. Itu karena melalui usaha sungguh-sungguh dia memperoleh keridhaan Allah dan kehidupan yang baik di dunia ini. Mengenai ini Allah berfirman:
"Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Q.s. an-Nahl: 97).
Kita dapat melihat perilaku orang beriman dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sebagai contoh, orang beriman tidak ragu untuk mengesampingkan bisnis yang menguntungkannya, agar dia dapat terlibat dalam tugas lain tanpa imbalan keduniaan jika dia percaya hal itu akan lebih menyenangkan Allah. Demikian pula, dia akan mudah mengeluarkan uangnya yang telah dia simpan guna membiayai proyek amal yang dirancang untuk menyampaikan pesan-pesan moral al-Qur'an kepada umat manusia. Sebagaimana tampak dalam contoh, seorang beriman yang gigih segera mengesampingkan kepentingan pribadinya dan mengabdikan diri untuk kepentingan agama tanpa ragu.
Kesadaran seseorang untuk mengabaikan hak-haknya dalam situasi tertentu berkaitan dengan kesadarannya, bahwa apa yang dia lakukan merupakan sesuatu yang besar imbalannya dan bukan suatu kerugian. Dia mungkin mengabaikan kontrak yang menguntungkan, dan bahkan, menimbulkan kerugian material yang banyak; tetapi, dia akan memperoleh sesuatu yang jauh lebih tinggi dari itu: keridhaan Allah. Di samping itu, orang beriman tahu bahwa yang memberi dan menahan sesuatu adalah Allah. Yang memberi makanan, kekayaan, dan meningkatkan penghasilannya adalah Allah; karena itu, tak ada gunanya bersikap rakus atau cemas tentang akibatnya. Allah menyatakan bahwa sebagai imbalan bagi moral mereka yang baik dan usaha yang sungguh-sungguh, orang beriman akan memperoleh tambahan pahala:
"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya." (Q.s. Yunus: 26).
Lebih mengutamakan kepentingan Islam daripada kepentingan pribadi tidak terbatas pada masalah materi. Mungkin ada kepentingan untuk mengorbankan tubuh juga. Sebagai contoh, bantuan mungkin diperlukan ketika orang merasa letih, lapar atau kurang sehat. Pada waktu-waktu seperti itu, orang beriman terus memberikan bantuan tanpa menunda-nunda. Itu karena mereka menganggap pengorbanan materi atau fisik bukan merupakan suatu kesulitan melainkan kesempatan yang diciptakan oleh Allah. Ini adalah kesempatan-kesempatan yang dekat yang ditunggu oleh orang-orang beriman, yang sangat merindukan kedekatan dengan Allah dan mendapatkan ridha-Nya. Karena alasan ini, tanpa merasa sedih, mereka berpaling kepada tugas yang paling menguntungkan. Tak diragukan lagi, gairah dan tekad yang mereka tunjukkan merupakan indikasi dari iman dan keikhlasan.

4.    Komitmen untuk Menjaga Moral yang Baik
Orang yang ingin memperoleh ridha Allah dalam kehidupan di dunia ini akan memperlihatkan tekad besar untuk menjaga moral yang baik yang disukai Allah. Mereka yang tidak memiliki keimanan yang ikhlas kepada Allah dan yang tidak bersemangat untuk memperoleh ridha-Nya, akan merasa bahwa tugas itu berat. Itu disebabkan karena moral yang baik meliputi pelaksanaan secara sempurna atas kehendak dan hati nurani. Mereka yang tidak punya gairah dan semangat keimanan di hatinya tidak akan menampakkan kepekaan hati nurani dan kehendak. Konsekuensinya, mereka tidak memperlihatkan moral yang baik dalam pengertian yang sebenarnya.
Orang-orang beriman yang memeluk agama dengan gigih, sebaliknya, akan dengan senang hati menjalani kehidupan sesuai dengan prinsip moral yang dijelaskan dalam al-Qur'an dan mendapatkan kesenangan dari pengamalan itu. Kadang-kadang mungkin mereka menghadapi situasi-situasi yang menggoda, tetapi ketika mereka menolak untuk mengikuti naluri hewani, mereka merasa puas mencapai prestasi moral ini. Mereka sering menjumpai kesulitan-kesulitan dan masalah-masalah namun tetap tegar dan berani.
Menghadapi sikap agresif yang dapat memancing kemarahan, mereka sabar dan menahan diri. Mereka membalas perbuatan jahat dengan perbuatan baik. Ketika diperlakukan tidak adil, mereka lebih suka bermurah hati dan memaafkan, sekalipun mereka berada dalam posisi benar. Dalam situasi-situasi yang paling sulit dan menyusahkan pun, mereka tetap mengesampingkan kepentingannya sendiri dengan memberikan prioritas kepada keinginan orang lain, dan senang berkorban untuk orang-orang beriman lainnya. Ketika menyadari bahwa mereka berbuat kesalahan, mereka berusaha sungguh-sungguh untuk memperbaiki. Meskipun mereka mungkin dalam keadaan sangat membutuhkan, mereka tetap bersedekah kepada anak-anak yatim, orang miskin, musafir dan senantiasa taat kepada perintah Allah. Mereka selalu berbuat adil dan menunjukkan sikap jujur ketika memberikan kesaksian, bahkan ketika bertentangan dengan kepentingannya sendiri. Mereka tidak memata-matai orang lain atau berkhianat satu sama lain. Yang terpenting, mereka berpegang teguh pada nilai-nilai al-Qur'an sampai akhir hayat menjemput.
Hanya gairah keimanan memberikan kepada seseorang kemampuan untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai al-Qur'an. Komitmen orang beriman pada nilai-nilai yang baik mencerminkan kedalaman iman mereka. Tentu saja ada saatnya ketika orang Islam berjuang melawan hawa nafsu dan ketika mereka tergoda oleh setan. Namun, hamba Allah yang bijaksana selalu menampakkan tekad untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai moral yang akan menyenangkan Allah disebabkan oleh ketaatan kepada-Nya, dan cita-cita mereka untuk dekat dengan-Nya.

5.    Menyerahkan Diri dan Harta Mereka untuk Allah
Diri dan harta adalah dua konsep yang dianggap sangat penting oleh masyarakat jahiliah. Faktanya, bagi banyak orang diri dan harta merupakan satu-satunya tujuan kehidupan. Sepanjang hidup mereka, orang berusaha untuk memperoleh status yang dengannya mereka dapat dihormati dan bisa unggul. Dalam al-Qur'an, Allah menyuruh manusia untuk memperhatikan fakta bahwa memiliki harta dan dihormati di masyarakat adalah nafsu banyak orang-orang bodoh:
"Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga)." (Q.s. Ali Imran: 14).
Dalam ayat lain Allah menyatakan bahwa harta dan status tidak lain adalah ujian:
"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap diri dan hartamu." (Q.s. 187).
Dengan nafsu yang menyala di hati, orang-orang dalam masyarakat jahiliah bercita-cita untuk memiliki harta yang banyak. Ketakutan terbesar mereka ialah kerusakan terhadap harta mereka atau sesuatu yang mereka banggakan, karena kerusakan itu akan mempengaruhi tujuan utama mereka dalam kehidupan. Karena alasan ini mereka mengorbankan segala sesuatu demi melindungi kekayaan, diri, dan kemajuan kepentingan duniawi mereka. Pandangan mereka bahwa kehidupan dunia ini, apa-apa yang ada di dalamnya dan kesenangan-kesenangannya yang menggoda, adalah lebih bernilai daripada ridha Allah, menjadi sumber sikap seperti itu.
Sebaliknya, orang-orang beriman segera mengesampingkan keuntungan material (yang diburu oleh orang-orang jahiliah) demi memperoleh ridha Allah dan surga. Mereka sadar bahwa mereka sedang diuji melalui harta dan diri mereka, dan bahwa Allah adalah pemilik sesungguhnya atas apa-apa yang diberikan di dunia ini. Akibatnya, Allah mungkin mengambil kembali apa yang telah Dia amanatkan kapan pun Dia menghendaki, karena Allah memegang kekuasaan mutlak atas segala sesuatu di alam semesta ini.
"Diri" seseorang, yang adalah tubuhnya, akhirnya akan mengalami proses kemunduran yang cepat setelah usia enam puluh atau tujuh puluh tahun, dan hartanya tidak akan memberi manfaat baginya di akhirat. Tetapi ketika seseorang menggunakan hartanya di jalan Allah, dia akan menuai kepuasan baik di dunia ini maupun di akhirat. Orang-orang beriman menyerahkan diri mereka kepada Allah, dan gairah dalam hati merekalah yang menyebabkan mereka berserah diri kepada-Nya. Dalam al-Qur'an dinyatakan sebagai berikut:
"Sesungguhnya Allah telah membeli diri dan harta orang mukmin dengan surga." (Q.s. at-Taubah: 111).
Ayat di atas ditutup dengan:
"Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan ini, dan itulah kemenangan yang besar." (Q.s. at-Taubah: 111).
Ayat ini memungkinkan orang-orang beriman untuk senantiasa mengalami kebahagiaan dan gairah di hati mereka. Ketika diperlukan, mereka dengan bersemangat menggunakan hartanya untuk tujuan yang baik guna mendapatkan ridha Allah. Mereka menggunakan diri mereka untuk berbakti kepada agama dan berbuat amal baik untuk mendapatkan ridha Allah. Tak diragukan lagi, mereka sadar bahwa kadang-kadang harta dan hidup mereka mungkin dalam bahaya, tetapi mereka menerima itu dengan senang hati karena mereka menganggap itu sebagai keuntungan dan bukan kerugian. Dalam al-Qur'an, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk menghadapi kesulitan dengan tawakal:
"Katakanlah, 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal'." (Q.s. at-Taubah: 51).
Al-Qur'an juga menceritakan suatu kejadian yang memperlihatkan betapa bergairahnya orang beriman menyerahkan harta dan diri mereka untuk Allah. Sekelompok orang beriman di zaman Nabi Muhammad saw. dengan ikhlas berkeinginan untuk berjuang di jalan Allah, tetapi keadaan tidak memungkinkan mereka. Allah menghargai niat tulus mereka dan memaafkan mereka:
"Dan tiada dosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: 'Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu', lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan." (Q.s. at-Taubah: 92).
Ini merupakan isyarat yang jelas tentang betapa tulusnya orang-orang beriman berkeinginan untuk menggunakan harta dan diri mereka di jalan Allah dan gairah yang dia rasakan untuk tujuan ini. Tak diragukan lagi, jenis pengabdian yang diberikan seorang yang beriman akan berubah sesuai dengan waktu dan situasi. Di zaman Nabi Muhammad saw. perang harus dilancarkan untuk melindungi hak-hak orang beriman. Di zaman kita sekarang ini umat Islam perlu berjuang dalam bidang intelektual, dan mengabdi dalam bidang keilmuan.
Setiap orang yang melakukan pengorbanan tulus untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai al-Qur'an dan menyampaikan keindahan hidup seperti itu kepada orang lain, semata mengharapkan balasan dari Tuhannya. Balasan bagi mereka yang menggunakan waktu dan harta di dunia ini di jalan Allah ditegaskan dalam al-Qur'an sebagai berikut:
"Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak." (Q.s. al-Hadid: 11).

6.    Berlomba-lomba dalam Kebaikan
"Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada amal-amal kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh." (Q.s. Ali Imran: 114).
"Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan." (Q.s. al-Ma'idah: 48).
Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Namun berlomba-lomba ini bukanlah seperti dalam masyarakat jahiliah untuk tujuan mengalahkan orang lain. Sebaliknya, ini adalah berlomba untuk memperbanyak kebajikan dan amal. Tujuan orang-orang beriman berlomba-lomba bukanlah untuk memperoleh keuntungan dunia atau untuk mengungguli orang lain. Sebaliknya, mereka berlomba-lomba untuk taat kepada perintah Allah, untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai yang disenangi Allah, dan untuk mencapai ridha Allah. Keterlibatan mereka dalam lomba seperti itu adalah manifestasi dari ketakutan dan iman mereka kepada Allah. Memang, usaha yang dilakukan seseorang merupakan ukuran tentang keikhlasan dan komitmennya. Dia ingin Allah ridha, memberi rahmat, dan surga, maka dia melakukan segala upaya dengan sungguh-sungguh. Dengan menggunakan akal budi, hati nurani, dan kemampuan fisiknya secara maksimal, dia berusaha untuk hidup sesuai dengan al-Qur'an dalam cara sesempurna mungkin. Allah memberi tahu kita, bahwa usaha tulus merekalah yang membuat orang-orang beriman unggul dalam pandangan Allah.
"Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya." (Q.s. al-Mu'minun: 61).

7.    Sikap Nabi Zakaria dijadikan sebagai contoh:
"Maka Kami kabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (Q.s. al-Anbiya': 90).
Di sini, Allah meminta perhatian kita kepada fakta bahwa bersegera kepada amal kebaikan juga merupakan sifat para nabi. Sepanjang hidupnya para nabi berusaha untuk memperoleh ridha Allah, maka orang beriman menjadikan para nabi sebagai teladan.
Alasan lain orang-orang beriman berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan ialah mereka sadar bahwa kehidupan dunia ini sangat singkat dan kematian sangat dekat. Mereka tahu kematian dapat menimpanya kapan pun, dan bahwa mereka akan merasa menyesal jika tidak berusaha sungguh-sungguh untuk memperoleh ridha Allah. Karena begitu seseorang masuk alam akhirat, mustahil untuk kembali ke alam dunia lagi untuk berlomba dalam beramal kebajikan. Dengan demikian, orang beriman berlomba-lomba dengan waktu untuk berbuat baik lebih banyak lagi, dan selama mereka masih diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini. Mereka dengan bersemangat menggunakan setiap kesempatan untuk berbuat baik. Sebuah doa orang-orang beriman yang mukhlis dikutip dalam al-Qur'an sebagai berikut:
"Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa'." (Q.s. al-Furqan: 74). 

bersambung...